Membahas Berbagai Masalah Agama, Tasawuf, Usuluddin, Fikih dan Lainnya.

Kamis, 27 April 2017

BAB 31 CIRI ORANG YANG TELAH SAMPAI DAN SEDANG BERJALAN KEPADA ALLAH

“Hendaknya memberi nafkah orang kaya menurut kekayaannya, merekalah orang yang telah sampai kepada Allah. Dan orang yang terbatas rizkinya adalah orang yang sedang berjalan menuju kepada Allah”.

Ciri orang yang telah sampai kepada Allah ialah bila mereka memiliki keluasan rizki, rela menafkahkan semua harta pemberian Allah untuk kepentingan agama Allah Swt. Sebaliknya orang yang masih berjalan kepada Allah maka dalam menafkahkan harta hanya sekadarnya saja, sesuai dengan pemberian Allah Swt. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surat At thalaq ayat 9, yang artinya: “ hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Sungguh Allah memberikan kelapangan sesudah kesempitan “.

“ Orang-orang yang sedang menuju kepada Allah telah mendapat hidayah dengan nur (pelita) ibadah, sedang orang-orang yang telah sampai, bagi mereka nur yang langsung dari tuhan. Maka orang-orang salik menuju ke alam nur, sedangkan orang yang telah sampai berkecimpungan di dalam nur, sebab orang yang telah sampai telah bersih dari segala sesuatu selain Allah. Ktakanlah:   allah, kemudian biarkan yanglain-lain di dalam kesibukan mereka berkecimpung (bermain-main)”.

Seseorang yang mau berusaha (berjalan) menuju tingkatan ma’rifat berarti ia mendapat hidayah dari Allah berupa nur tawajjuh. Sebab dari  nur tersebut, orang itu pun giat dalam menjalankan segala macam ibadah untuk mendekatkan diri Allah Swt. Sedang orang yang telah mencapai tingkatan ma’rifatmereka mendapat hidayah berupa nur muwajjahah, yaitu nur yang langsung dari Allah bukan sebagai hasil ibadah, tetapi semata-mata karunia Allah Swt.

Hakikat tauhid yaitu tidak melihat pengaruh-pengaruhb sesuatu selain Allah, dan inilah yang bernama haqqul yaqin. Sedangkan melihat dan merasa adanya pengaruh dari sesuatu selain Allah itu hanya permainan belaka dan bersifat menipuan atau kemunafikan.

BAB 32 CARILAH AIB DARI DIRIMU SENDIRI

“Usahamu untuk mengetahui aib (cela) yang masih ada di dalam dirimu itu lebih baik dari usahamu untuk mengetahui hal ghaib apa yang menghijabmu “.

Yang paling penting bagi seorang hamba yaitu mencari cela (aib) yang ada pada diri sendiri, seperti riya’, sombong, gila jabatan, selalu memperturutkan nafsu, dan segala hal yang buruk, lalu menghapus dan menggantinya dengan mujahadah dan riyadhoh kepada Allah Swt. Tidak perlu kiranya berusaha untuk mengetahui sesuatu yang ghaib yang berada di luar alam nyata, atau ingin mempunyai karamah dan lain sebagainya.

BAB 33 ALLAH TIDAK TERHALANG OLEH APAPUN

“ Al haqq (Allah) tidaklah terhalang (terhijab) oleh apapun juga, sebaliknya engkaulah yang terhijab darinya, sehingga engkau tidak bisa melihat Allah. Sebab sekiranya ada sesuatu yang menghijab Allah, berarti sesuatu itu dapat menutup dzatnya Allah, dan andaikata ada tutup bagi Allah, berarti wujud Allah dapat terkurung, dan sesuatu yang mengurung itu dapat menguasai apa yang dikurung, padahal Allah yang maha berkuasa atas semua makhluk Nya “.

Sifat Allah adalah tidak mungkin dapat terhijab oleh sesuatu apapun, sebaliknya manusialah yang dapat terhijab sehingga tidak bisa melihat kepada Dzat allah yang maha suci, yang menghijab (menghalangi) manusia dari Allah adalah hawa nafsunya, karena seandainya ada sesuatu yang menghalangi Allah, berarti sesuatu itu dapat menutupi Allah, dan  apabila ada yang menutupi berarti wujud Allah itu dibatasi, padahal dalam Al Qur’an surat Al An’am ayat 18 disebutkan: “ Dan Dialah (Allah) yang berkuasa atas hamba-hamba Nya “.

BAB 34 KELUARLAH DARI SIFAT-SIFAT KEHAMBAANMU

“ Keluarlah dari sifat-sifat kemanusiaanmu (yang buruk dan rendah), dari semua sifat yang menyalahi kehambaanmu, supaya mudah bagimu untuk menyambut panggilan Allah dan mendekatkan ke hadirat Nya “.

Usahakanlah dirimu untuk selalu riyadhoh dan mujahadah kepada Allah, supaya dirimu dapat terhindar dari sifat-sifat yang tercela (hina), yaitu semua sifat yang bertentangan dengan sifat kehambaanmu, baik lahir maupun bathin. Sebab bila dirimu bisa keluar dari sifat-sifat tercela tersebut, maka kemudian dirimu bisa memiliki sifat-sifat yang terpuji. Seperti tawadhu’, khusyu’, ikhlas, dan lain sebagainya. Selain itu dirimu bisa dengan mudah mendekatkan diri pada Allah dan merasa ringan untuk beramal dan bisa tetap menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang melahirkan dosa.

Yang dimaksud dengan riyadhoh adalah menundukkan hawa nafsu hingga ia mengikuti perkara yang haq (benar). Sedangkan mujahadah adalah memerangi hawa nafsu dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah swt.


Tidak ada komentar: