Membahas Berbagai Masalah Agama, Tasawuf, Usuluddin, Fikih dan Lainnya.

Rabu, 22 Juni 2016

KAJIAN KITAB AL HIKAM BAB 27, 28, 29, 30 SYAIKH AHMAD IBNU ‘ATHAAILLAH AS SAKANDARY

BAB 27 HUKUM PERMINTAAN YANG  BERSANDAR PADA ALLAH DAN KEKUATAN DIRI

“Tidak akan pernah berhenti suatu permintaan yang engkau sandarkan kepada tuhanmu, dan tidak mudah tercapai suatu permintaan yang engkau sandarkan pada kekuatan yang berada pada dirimu  sendiri”.

Jika engkau memohon apa saja yang `engkau panjatkan kepada Allah dengan hudhurul qolbi (menghadirkan hati) serta bersandar hanya kepada Allah, pasti permohonanmu tersebut akan berhasil. Sebaliknya jika engkau ingin menggapai suatu maksud dengan mengandalkan amal perbuatan dan kekuatanmu sendiri, dan kemudian tidak menyertakan Allah didalamnya, maka tentu yanng engkau maksudkan akan sulit untuk tercapai.

Semisal, seorang hamba menghendaki keberhasilan dalam urusan dunia, baik harta, jabatan atau apapun, ia hanya mengandalkan dirinya sendiri tanpa melibatkan Allah didalamnya, maka ia akan sangat sulit untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Bisa jadi begitu melangkah, cobaan demi cobaan sudah menghampiri yang kemudian mengakibatkan munculnya sikap pesimistis dan tidak percaya diri, akhirnya ia gagal untuk memperoleh keberhasilan yang ia impikan.

Untuk itu, kita sebagai hamba harus terus menerus menghadirkan Allah dalam kondisi seperti apapun, sehingga kalaupun cobaan silih berganti tapi tetap dikuatkan hatinya oleh Allah.

BAB 28 TANDA LULUSNYA PERJUANGAN

“Suatu tanda akan lulusnya seseorang pada akhir perjuangannnya adalah mengembalikan kepada Allah sejak memulai perjuangannya”.

Tanda lulusnya perjuangan seseorang adalah tawakkal kepada Allah sejak permulaannya. Maksudnya kembali kepada Allah yaitu memasrahkan sepenuhnya kepada Allah masalah hasil atau tidaknya perjuangan tersebut dan selalu memohon pertolongan Allah, tidak hanya mengandalkan pada amal ibadahnya.

Seorang arif berkata: “Siapa yang menyangka bahwa ia akan dapat wushul (sampai) kepada Allah, dengan perantaraan selain Allah, pasti akan putus karenanya. Dan siapa yang beribadah bersandar pada kekuatan dirinya, maka diserahkan oleh Allah pada kekuatan dirinya, yakni hanya sampai di situ saja, sehingga tidak bisa mencapai bagian-bagian yang hanya dapat dicapai dengan tawakkal dan menyandarkan diri kepada Allah”.

“Barang siapa bercahaya pada permulaan (bidayah) nya, maka bercahaya pula pada akhir (nihayah) nya”.

Yang dimaksud bidayah yaitu ketika ketika masih berada dalam keadaan salik, sedang nihayah yaitu ketika akan wushul (sampai) kepada Allah. Bercahaya bidayah yaitu menggunakan semua waktunya untuk beribadah. Bercahaya nihayahnya berarti wushul kepada Allah dengan sempurna.

BAB 29 NUR ILAHI AKAN TAMPAK  PADA ANGGOTA LAHIR (FISIK)

“Apa yang tersembunyi dalam rahasia ghaib, yaitu yang berupa nur ilahi dan ma’rifat, pasti akan tampak bekas (pengaruh) nya pada anggota lahir (fisik)”.

Jika seorang hamba hatinya terdapat nur ma’rifat dan macam-macamnya ma’rifat, apa yang berada dalam hatinya akan terlihat pada anggota lahiriyahnya, seperti pada wajah, tingkah laku dan sebagainya. Abu Hafsh barkata: “Bagusnya adab kesopanan membuktikan adanya adab yang ada di dalam bathin”.

Abu Thalib Al Makkiy juga mengatakan, bahwa Allah telah menunjukkan tanda (bukti) seorang kafir, yaitu bila disebut nama Allah mereka mengejek dan enggan juga  tidak mau menerima kebenarannya.

BAB 30 DALIL ADANYA ALLAH DAN ADANYA ALAM

“Jauh berbeda antara orang yang berdalil bahwa adanya Allah menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berdalil bahwa adanya alam inilah yang menunjukkan adanya Allah. Orang yang berdalil adanya Allah menunjukkan adanya alam, yaitu orang yang mengenal hak dan meletakkan pada tempatny, sehingga menetapkan adanya sesuatu dari asal muasalnya. Sedang orang yang berdalil bahwa adanya alam menunjukkan adanya Allah, karena ia tidak/belum sampai kepada Allah. Maka bilakah Allah itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahui Nya. Dan bilakah Allah itu jauh sehingga adanya alam bisa menyampaikan kepadanya”.

Dalam surat An nahl ayat 78, Allah berfirman: “Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepadamu pendengaran dan penglihatanserta perasaan, supaya kamu bersyukur”.


Memang asal mula kejadian manusia itu bodoh tidak mengetahui apa-apa kemudian Allah memberinya alat untuk mengetahui dan mengenal Nya, yaitu pendengaran, penglihatan, perasaan dan pikiran. Tujuannya dalah supaya manusia bersyukur, sebab dengan syukur tersebut manusia sempurna dan sejahtera hidupnya, yaitu setelah mengenal kepada Allah yang menjadikan dan menjamin segala kebutuhan dan keinginannya.

Tidak ada komentar: